
Jakarta (ANTARA) – Rambut rontok saat keramas sering kali membuat seseorang khawatir. Apalagi jika helaian rambut terlihat menumpuk di tangan atau memenuhi saluran air kamar mandi. Dari kondisi tersebut, muncul anggapan bahwa terlalu sering keramas menjadi salah satu penyebab rambut rontok.
Lantas, apakah anggapan tersebut benar?
Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Sering keramas tidak secara langsung menyebabkan rambut rontok dari akar, tetapi kebiasaan mencuci rambut yang terlalu sering, terutama dengan cara dan produk yang kurang tepat, dapat membuat rambut lebih kering, rapuh, dan mudah patah.
Baca juga: Ini ciri rambut rontok yang berkaitan dengan kanker
Baca juga: Benarkah stres bisa sebabkan rambut rontok? Ini penjelasannya
American Academy of Dermatology (AAD) menyebutkan bahwa kerontokan sekitar 50 hingga 100 helai rambut per hari masih tergolong normal. Rambut yang memang sudah berada dalam fase istirahat atau rontok juga bisa lebih mudah terlepas ketika rambut dicuci.
Mengapa rambut terlihat lebih banyak rontok saat keramas?
Rambut yang ditemukan di kamar mandi sebenarnya belum tentu merupakan rambut yang rontok akibat keramas. Sebagian rambut memang sudah memasuki fase akhir dari siklus pertumbuhan dan akan terlepas secara alami.
Saat keramas, gerakan memijat kulit kepala dan membilas rambut membantu melepaskan helaian yang memang sudah berada dalam fase tersebut. Akibatnya, rambut yang sebelumnya sudah lepas tetapi masih tersangkut di antara rambut lain akan terlihat sekaligus saat mandi.
Karena itu, melihat sejumlah rambut di tangan setelah keramas tidak otomatis berarti rambut mengalami kerontokan akibat sampo.
Terlalu sering keramas tetap bisa merusak rambut
Meski tidak menjadi penyebab utama kerontokan dari akar, terlalu sering mencuci rambut dapat membuat batang rambut kehilangan kelembapan. Kondisi tersebut dapat membuat rambut menjadi kering dan lebih mudah mengalami kerusakan atau patah.
Cleveland Clinic menjelaskan bahwa frekuensi keramas sebaiknya disesuaikan dengan jenis rambut, tekstur, usia, serta kondisi kulit kepala. Rambut yang lebih halus dan kulit kepala yang berminyak mungkin membutuhkan keramas lebih sering, sementara rambut yang kering, tebal, atau keriting biasanya tidak perlu dicuci sesering itu.
Jadi, tidak ada aturan bahwa semua orang harus keramas setiap hari atau justru harus menghindarinya setiap hari. Kebutuhan tiap orang bisa berbeda.
Baca juga: Tips rawat rambut kering dan kusut dari rumah
Cara keramas agar rambut tidak mudah rusak
Supaya rambut dan kulit kepala tetap terawat, ada beberapa hal sederhana yang bisa diperhatikan.
Pertama, pilih sampo yang sesuai dengan jenis rambut dan kondisi kulit kepala. AAD menyarankan penggunaan sampo yang lembut, terutama jika rambut sedang menipis atau mudah patah. Penggunaan conditioner setelah keramas juga dapat membantu mengurangi kerusakan pada batang rambut.
Kedua, fokuskan penggunaan sampo pada kulit kepala dan akar rambut. Bagian ujung rambut tidak perlu digosok secara berlebihan karena dapat membuatnya semakin kering dan mudah patah.
Ketiga, hindari menggosok rambut dengan kasar menggunakan handuk. Setelah keramas, cukup tekan atau tepuk perlahan untuk mengurangi air. Rambut yang masih basah cenderung lebih rentan mengalami kerusakan.
Terakhir, jangan menggunakan air yang terlalu panas. Paparan panas berlebihan dapat membuat rambut dan kulit kepala menjadi lebih kering serta meningkatkan risiko kerusakan pada batang rambut.
Jadi, sering keramas bikin rambut rontok, mitos atau fakta?
Lebih tepat disebut mitos jika yang dimaksud adalah keramas secara langsung menyebabkan rambut rontok dari akar. Keramas justru merupakan bagian penting untuk menjaga kebersihan kulit kepala dan membantu mengurangi penumpukan minyak, sel kulit mati, serta mikroorganisme yang dapat memicu masalah kulit kepala.
Namun, frekuensi keramas yang tidak sesuai kebutuhan rambut, penggunaan produk yang terlalu keras, serta kebiasaan menggosok atau memperlakukan rambut secara kasar dapat meningkatkan risiko rambut kering, rapuh, dan patah.
Jika kerontokan berlangsung terus-menerus, rambut terlihat semakin menipis, muncul bagian kepala yang botak, atau jumlah rambut yang rontok berubah secara signifikan, sebaiknya jangan hanya mengganti sampo. Kerontokan dapat disebabkan banyak faktor, mulai dari keturunan, stres, kondisi kesehatan tertentu, kekurangan zat besi, hingga perubahan berat badan. Pemeriksaan oleh dokter atau dokter kulit dapat membantu menemukan penyebab yang tepat.
Baca juga: 5 Kebiasaan sehari-hari yang bisa bikin rambut cepat rontok
Baca juga: Penyebab rambut rontok: Dari kurangnya nutrisi hingga faktor genetik
Baca juga: Rambut rontok? Begini cara alami dan sederhana yang bisa dicoba
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
