
Jakarta (ANTARA) – Telur menjadi salah satu bahan makanan yang mudah ditemukan dan sering dikonsumsi masyarakat Indonesia. Selain harganya relatif terjangkau, telur juga dikenal sebagai sumber protein yang dapat diolah menjadi berbagai hidangan.
Namun, ada anggapan yang masih sering beredar bahwa terlalu banyak makan telur bisa menyebabkan bisul. Tidak sedikit orang yang memilih mengurangi konsumsi telur ketika muncul benjolan merah dan bernanah di kulit karena khawatir makanan tersebut menjadi penyebabnya.
Lantas, apakah benar kebanyakan makan telur bisa memicu bisul?
Jawabannya adalah mitos. Hingga saat ini, tidak ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan bahwa konsumsi telur secara langsung menyebabkan bisul. Kondisi tersebut umumnya terjadi akibat infeksi bakteri pada folikel rambut atau tempat tumbuhnya rambut di kulit.
Baca juga: 9 makanan untuk program hamil, dari telur hingga sayuran hijau
Apa sebenarnya penyebab bisul?
Bisul atau furunkel merupakan benjolan merah yang terasa nyeri dan berisi nanah. Kondisi ini muncul ketika folikel rambut mengalami infeksi yang kemudian menyebar ke jaringan kulit di sekitarnya.
Penyebab paling umum adalah bakteri Staphylococcus aureus. Bakteri ini sebenarnya dapat hidup di permukaan kulit atau bagian dalam hidung tanpa menimbulkan masalah. Namun, ketika masuk melalui luka kecil, goresan, atau folikel rambut, bakteri tersebut bisa memicu infeksi.
Infeksi kemudian menyebabkan kulit mengalami peradangan, pembengkakan, dan penumpukan nanah. Bisul biasanya muncul di area tubuh yang memiliki rambut dan sering mengalami gesekan atau berkeringat, seperti ketiak, leher, paha, wajah, dan bokong.
Mengapa telur sering dikaitkan dengan munculnya bisul?
Anggapan tersebut kemungkinan muncul karena sebagian orang memperhatikan bahwa bisul muncul setelah mereka mengonsumsi telur dalam jumlah banyak.
Padahal, kemunculan bisul setelah makan telur tidak otomatis berarti makanan tersebut menjadi penyebabnya. Infeksi bakteri dapat terjadi karena berbagai faktor yang tidak berkaitan langsung dengan jenis makanan yang dikonsumsi.
Meski begitu, telur memang dapat memicu reaksi alergi pada orang tertentu. Alergi telur bisa menimbulkan gejala berupa ruam, bentol-bentol yang terasa gatal, pembengkakan, hingga gangguan pencernaan.
Kondisi tersebut berbeda dengan bisul. Bentol akibat alergi biasanya berupa biduran atau hives, sedangkan bisul merupakan infeksi kulit yang ditandai benjolan nyeri dan dapat berisi nanah.
Karena itu, penting untuk membedakan reaksi alergi dengan infeksi kulit agar tidak keliru menentukan penyebabnya, demikian mengutip National Library of Medicine.
Baca juga: 9 cara membasmi kutu kasur putih di sofa hingga tuntas
Baca juga: Telur hingga bluberi, pilihan sarapan untuk mendukung fungsi otak
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
