
Jakarta (ANTARA) – Janur kuning menjadi salah satu hiasan yang kerap dijumpai dalam pernikahan adat Jawa. Daun kelapa muda berwarna kuning kehijauan ini biasanya dirangkai menjadi berbagai bentuk dan dipasang di sekitar tempat berlangsungnya acara pernikahan.
Kehadirannya bukan sekadar memperindah dekorasi atau menandai adanya hajatan. Dalam tradisi masyarakat Jawa, janur kuning mengandung simbol dan harapan bagi pasangan pengantin yang akan memulai kehidupan rumah tangga.
Tradisi tersebut masih bertahan di tengah perkembangan konsep pernikahan modern. Bahkan, janur kuning tetap digunakan dalam berbagai acara pernikahan, baik yang mengusung adat Jawa secara lengkap maupun yang hanya mengambil beberapa unsur tradisional.
Lantas, apa pengertian janur kuning, bagaimana filosofi di baliknya, dan apa saja fungsinya dalam pernikahan? Berikut penjelasannya.
Baca juga: 50 vendor meriahkan pameran “wedding” di Semarang 21-23 Agustus
Pengertian janur kuning dalam pernikahan
Janur merupakan daun kelapa yang masih muda dan biasanya berwarna kuning pucat hingga kehijauan. Daun tersebut memiliki tekstur lentur sehingga mudah dianyam dan dibentuk menjadi berbagai hiasan.
Dalam pernikahan adat Jawa, janur kuning digunakan sebagai bagian dari dekorasi dan perlengkapan upacara. Bentuknya dapat berupa lengkungan di pintu masuk, hiasan tempat acara, hingga rangkaian kembar mayang yang menjadi bagian dari prosesi pernikahan.
Penggunaan janur juga berkaitan dengan tradisi tarub, yaitu pemasangan hiasan dan perlengkapan tertentu di sekitar rumah atau tempat penyelenggaraan hajatan. Dalam praktiknya, tarub menjadi penanda bahwa keluarga sedang mengadakan acara, termasuk pernikahan.
Penelitian Nihayatul Karimah dan Prilla Lukis Wediyantoro dalam jurnal English Journal of Merdeka pada 2025 menjelaskan bahwa pemasangan tarub menggunakan janur kuning dan anyaman daun kelapa muda menjadi salah satu unsur dekorasi pernikahan tradisional Jawa. Selain memperindah tempat acara, tarub juga berfungsi memberi tahu masyarakat sekitar bahwa keluarga sedang menyelenggarakan hajatan.
Baca juga: Tren pernikahan 2026 dorong pasangan pilih konsep yang lebih personal
Filosofi janur kuning dalam pernikahan adat Jawa
Janur kuning memiliki sejumlah pemaknaan yang berkembang dalam tradisi masyarakat Jawa. Makna tersebut tidak hanya berkaitan dengan bentuk dan warnanya, tetapi juga harapan keluarga terhadap kehidupan pasangan pengantin.
1. Simbol kebahagiaan dan harapan baik
Janur kuning kerap dimaknai sebagai lambang kebahagiaan dan harapan baik. Kehadirannya dalam pernikahan menggambarkan doa keluarga agar pasangan pengantin memperoleh kehidupan rumah tangga yang penuh sukacita.
Warna kuning juga sering dikaitkan dengan cahaya, keceriaan, dan kemakmuran dalam pemaknaan budaya masyarakat. Karena itu, janur menjadi salah satu unsur yang digunakan untuk menyambut momen bahagia.
2. Melambangkan kesucian dan niat baik
Janur juga kerap dikaitkan dengan kesucian dan niat baik dalam membangun rumah tangga. Makna ini mencerminkan harapan agar kedua mempelai memulai kehidupan bersama dengan hati yang tulus.
Dalam tradisi masyarakat, simbol tersebut menjadi pengingat bahwa pernikahan bukan hanya penyatuan dua orang, melainkan juga komitmen untuk saling menjaga dan menghormati.
Meski demikian, pemaknaan janur dapat berbeda berdasarkan daerah dan tradisi keluarga. Tidak semua masyarakat Jawa menggunakan satu penafsiran yang sama.
3. Simbol petunjuk dan cahaya kehidupan
Sebagian penafsiran budaya menghubungkan kata janur dengan ungkapan yang bermakna cahaya atau petunjuk. Makna tersebut kemudian dikaitkan dengan harapan agar pasangan pengantin memperoleh tuntunan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Sebuah kajian dalam Journal of Ethnic Foods yang diterbitkan Springer pada 2023 turut membahas pemaknaan janur dalam budaya Jawa. Kajian tersebut menghubungkan janur dengan cahaya, kebahagiaan, dan simbol kegembiraan yang digunakan dalam berbagai perayaan, termasuk pernikahan.
Namun, pemaknaan tersebut merupakan penafsiran budaya yang berkembang di masyarakat, bukan satu-satunya asal-usul bahasa janur yang disepakati secara ilmiah.
4. Menggambarkan keharmonisan rumah tangga
Penggunaan janur dalam rangkaian dekorasi pernikahan juga dapat dimaknai sebagai harapan terciptanya keharmonisan antara suami dan istri.
Pasangan diharapkan mampu saling memahami, bekerja sama, serta menghadapi berbagai persoalan kehidupan rumah tangga. Dengan demikian, janur tidak hanya menjadi hiasan, tetapi juga pengingat mengenai nilai-nilai yang perlu dijaga setelah pernikahan berlangsung.
Baca juga: Hadapi nikah lintas negara, Kemenag perkuat kompetensi bahasa penghulu
Fungsi janur kuning dalam pernikahan
Selain memiliki makna filosofis, janur kuning juga mempunyai fungsi praktis dalam penyelenggaraan pernikahan adat Jawa. Berikut beberapa kegunaannya.
1. Penanda adanya acara pernikahan
Salah satu fungsi janur kuning adalah menjadi penanda bahwa sebuah keluarga sedang mengadakan hajatan.
Janur biasanya dipasang di bagian depan rumah, pintu masuk, atau area sekitar tempat acara. Dengan demikian, masyarakat dan tamu yang melintas dapat mengetahui adanya kegiatan pernikahan di lokasi tersebut.
2. Memperindah dekorasi pernikahan
Janur memiliki bentuk yang lentur sehingga dapat dianyam dan dibentuk menjadi berbagai ornamen. Hiasan tersebut dapat digunakan untuk mempercantik pintu masuk, pelaminan, hingga area penyambutan tamu.
Penggunaan janur juga memberikan nuansa tradisional yang khas sehingga sering dipadukan dengan dekorasi modern.
3. Menjadi bagian dari rangkaian kembar mayang
Janur kuning merupakan salah satu bahan utama dalam pembuatan kembar mayang, yaitu rangkaian hiasan tradisional yang digunakan dalam prosesi pernikahan adat Jawa.
Kembar mayang biasanya dibuat dari janur yang dibentuk menjadi beragam ornamen, kemudian dipadukan dengan dedaunan dan bunga tertentu. Rangkaian tersebut memiliki bentuk serta susunan yang mengandung simbol kehidupan dan harapan bagi pasangan pengantin.
Penelitian Sri Widayanti dalam Jurnal Filsafat Universitas Gadjah Mada pada 2008 menjelaskan bahwa kembar mayang merupakan salah satu unsur dalam upacara tradisional Jawa. Rangkaian tersebut memiliki makna filosofis mengenai hubungan manusia dengan alam serta menjadi simbol perubahan status seseorang dari lajang menuju kehidupan pernikahan.
4. Melengkapi prosesi adat pernikahan
Dalam sejumlah tradisi pernikahan Jawa, janur digunakan sebagai bagian dari perlengkapan upacara adat. Kehadirannya dapat dijumpai dalam pemasangan tarub maupun pembuatan kembar mayang.
Setiap daerah memiliki tata cara dan ketentuan yang dapat berbeda. Karena itu, bentuk penggunaan janur tidak selalu sama dalam setiap pernikahan adat Jawa.
Baca juga: Kemenag minta intensifkan kampanye gerakan sadar pencatatan nikah
Perbedaan janur kuning dan kembar mayang
Janur kuning dan kembar mayang sering dianggap sebagai dua hal yang sama. Padahal, keduanya memiliki pengertian berbeda meskipun saling berkaitan.
Janur kuning merupakan daun kelapa muda yang digunakan sebagai bahan dasar dekorasi. Sementara itu, kembar mayang adalah rangkaian hiasan tradisional yang dibuat menggunakan janur dan sejumlah bahan tambahan, seperti dedaunan serta bunga.
Dengan kata lain, janur merupakan bahan yang dapat dibentuk menjadi berbagai ornamen, sedangkan kembar mayang adalah salah satu hasil rangkaiannya yang memiliki fungsi khusus dalam prosesi pernikahan adat Jawa.
Apakah janur kuning hanya digunakan dalam pernikahan adat Jawa?
Meskipun identik dengan pernikahan masyarakat Jawa, penggunaan janur tidak terbatas pada acara perkawinan. Daun kelapa muda ini juga dapat dijumpai dalam berbagai perayaan dan kegiatan tradisional lainnya.
Dalam masyarakat Jawa, janur digunakan untuk menghias tempat penyelenggaraan hajatan, seperti khitanan dan acara keluarga. Bentuk serta maknanya dapat disesuaikan dengan jenis kegiatan dan kebiasaan masyarakat setempat.
Penggunaan janur dalam pernikahan modern juga mengalami perkembangan. Sebagian pasangan memilih mempertahankan bentuk tradisional, sedangkan lainnya mengadaptasi janur sebagai elemen dekorasi yang dipadukan dengan konsep pernikahan masa kini.
Pada dasarnya, janur kuning merupakan salah satu warisan budaya yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Jawa menyampaikan doa dan harapan melalui simbol-simbol dalam upacara pernikahan. Kehadirannya bukan hanya mempercantik tempat acara, tetapi juga mengingatkan pasangan pengantin tentang nilai kebersamaan, komitmen, dan harapan baik dalam membangun rumah tangga.
Baca juga: Status pernikahan siri tak boleh jadi dasar stigma korban kekerasan
Baca juga: Kemenag kembangkan ICBP sebagai basis data bangun ketahanan keluarga
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
