Sering dianggap sama, ini beda angin duduk dan serangan jantung

Jakarta (ANTARA) – Nyeri dada, sesak napas, hingga keringat dingin merupakan keluhan yang kerap dikaitkan dengan gangguan jantung. Namun, gejala tersebut dapat muncul pada dua kondisi berbeda, yakni angin duduk atau angina pektoris dan serangan jantung.

Keduanya sama-sama berkaitan dengan berkurangnya aliran darah yang membawa oksigen ke otot jantung. Meski memiliki gejala yang mirip, angin duduk dan serangan jantung bukanlah kondisi yang sama. Perbedaan utamanya terletak pada tingkat gangguan aliran darah dan dampaknya terhadap otot jantung.

Angin duduk umumnya terjadi ketika aliran darah ke otot jantung berkurang sementara, sedangkan serangan jantung terjadi ketika aliran darah terhambat secara serius atau terputus sehingga otot jantung mulai mengalami kerusakan.

Penting untuk mengenali perbedaan keduanya. Meski demikian, gejala saja tidak selalu cukup untuk memastikan apakah seseorang mengalami angin duduk atau serangan jantung. Pemeriksaan medis diperlukan karena kedua kondisi tersebut dapat menimbulkan keluhan yang serupa.

Baca juga: Deg-degan ketika istirahat hingga nyeri dada termasuk gejala aritmia

Baca juga: Cara bedakan gejala serangan jantung dan maag

1. Mengenal angin duduk atau angina pektoris

Angin duduk merupakan istilah yang umum digunakan masyarakat untuk menyebut angina pektoris, yaitu rasa nyeri atau tidak nyaman di dada akibat otot jantung tidak memperoleh pasokan darah kaya oksigen yang cukup.

Kondisi ini umumnya berkaitan dengan penyempitan pembuluh darah koroner akibat penumpukan plak. Ketika seseorang melakukan aktivitas fisik atau mengalami tekanan emosional, kebutuhan oksigen jantung meningkat. Namun, pembuluh darah yang menyempit tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut sehingga timbul keluhan.

Pada angina stabil, gejala biasanya memiliki pola yang relatif sama. Nyeri dapat muncul ketika berjalan cepat, menaiki tangga, berolahraga, atau mengalami stres emosional. Keluhan umumnya mereda setelah beristirahat atau menggunakan obat yang diresepkan dokter.

Beberapa gejala angin duduk yang perlu dikenali meliputi:

– Dada terasa tertekan, tertindih, berat, atau seperti diremas.
– Nyeri dapat menjalar ke lengan, bahu, leher, rahang, punggung, atau perut bagian atas.
– Sesak napas ketika melakukan aktivitas.
– Tubuh terasa lelah atau lemas.
– Mual, pusing, dan berkeringat.

Angina stabil umumnya berlangsung singkat, sering kali sekitar lima menit atau kurang. Namun, durasi tersebut bukan patokan untuk memastikan seseorang aman dari serangan jantung.

Selain angina stabil, terdapat angina tidak stabil atau unstable angina. Kondisi ini lebih berbahaya karena nyeri dapat muncul secara tiba-tiba, termasuk ketika sedang beristirahat. Keluhan juga dapat berlangsung lebih lama, semakin sering, atau tidak membaik setelah beristirahat.

Angina tidak stabil merupakan kondisi darurat medis karena dapat menjadi tanda sindrom koroner akut dan berisiko berkembang menjadi serangan jantung.

2. Mengenal serangan jantung

Serangan jantung atau infark miokard terjadi ketika aliran darah menuju sebagian otot jantung terhambat sehingga jaringan jantung kekurangan oksigen dan mulai mengalami kerusakan.

Penyebab yang paling umum adalah pecahnya plak pada dinding pembuluh darah koroner yang kemudian memicu pembentukan gumpalan darah. Gumpalan tersebut dapat menyumbat aliran darah menuju otot jantung.

Berbeda dengan angina stabil, serangan jantung dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otot jantung apabila tidak segera ditangani.

Gejala serangan jantung yang umum terjadi antara lain:

– Nyeri atau tekanan pada bagian tengah dada yang berlangsung selama beberapa menit atau hilang kemudian muncul kembali.
– Rasa nyeri menjalar ke salah satu atau kedua lengan, bahu, leher, rahang, punggung, maupun perut bagian atas.
– Sesak napas, baik disertai nyeri dada maupun tanpa nyeri dada.
– Keringat dingin.
– Mual atau muntah.
– Pusing, kepala terasa ringan, atau hampir pingsan.
– Kelelahan yang tidak biasa.

Tidak semua serangan jantung diawali dengan nyeri dada yang sangat hebat. Sebagian orang mengalami gejala ringan, bahkan tidak merasakan nyeri dada yang khas.

Perempuan, orang lanjut usia, dan penderita diabetes juga dapat mengalami gejala yang kurang khas, seperti sesak napas, mual, nyeri punggung, atau kelelahan berlebihan. Karena itu, gejala serangan jantung tidak boleh hanya dinilai dari tingkat nyeri dada.

Baca juga: Dokter: Nyeri dada kiri menjalar ke leher ciri gejala serangan jantung

3. Perbedaan gejala angin duduk dan serangan jantung

Angin duduk dan serangan jantung sama-sama dapat menimbulkan nyeri dada, sesak napas, serta rasa tidak nyaman yang menjalar ke bagian tubuh lain. Meski demikian, terdapat beberapa perbedaan umum yang dapat dikenali.

Pemicu keluhan

Pada angina stabil, nyeri dada biasanya muncul ketika seseorang melakukan aktivitas fisik atau mengalami stres emosional. Keluhan cenderung mengikuti pola yang relatif sama.

Sementara itu, serangan jantung dapat terjadi ketika seseorang sedang beraktivitas maupun beristirahat. Gejalanya dapat muncul secara tiba-tiba tanpa pemicu yang jelas.

Durasi nyeri

Angina stabil umumnya berlangsung beberapa menit dan mereda setelah aktivitas dihentikan atau pasien beristirahat.

Pada serangan jantung, nyeri atau tekanan dada dapat berlangsung lebih lama, menetap, atau hilang kemudian muncul kembali. Namun, serangan jantung juga dapat menimbulkan keluhan ringan sehingga durasi nyeri tidak dapat dijadikan satu-satunya pembeda.

Respons terhadap istirahat

Keluhan angina stabil biasanya membaik setelah beristirahat atau menggunakan obat yang telah diresepkan dokter.

Sebaliknya, nyeri akibat serangan jantung umumnya tidak membaik hanya dengan beristirahat. Meski demikian, gejala yang sempat mereda tidak otomatis menyingkirkan kemungkinan serangan jantung.

Dampak terhadap otot jantung

Pada angina stabil, pasokan darah ke otot jantung berkurang sementara dan umumnya tidak menyebabkan kematian jaringan otot jantung.

Pada serangan jantung, aliran darah terhambat sehingga dapat menyebabkan kerusakan atau kematian sebagian jaringan otot jantung. Penanganan yang terlambat dapat memperluas kerusakan tersebut.

Perlu diingat, perbedaan di atas merupakan gambaran umum, bukan cara untuk mendiagnosis penyakit secara mandiri. Angina tidak stabil dan serangan jantung dapat memiliki gejala yang sangat mirip.

Baca juga: Dokter ingatkan masyarakat perlu waspadai nyeri dada saat berlari

4. Bagaimana dokter membedakan keduanya?

Untuk memastikan apakah seseorang mengalami angina atau serangan jantung, dokter perlu melakukan pemeriksaan medis. Penilaian tidak cukup hanya berdasarkan lokasi, intensitas, atau lamanya nyeri dada.

Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain:

1. Elektrokardiogram (EKG)

Pemeriksaan ini merekam aktivitas listrik jantung untuk mengetahui kemungkinan gangguan irama maupun tanda gangguan aliran darah ke otot jantung.

2. Tes darah troponin

Troponin merupakan protein yang dilepaskan ke dalam darah ketika otot jantung mengalami kerusakan. Peningkatan kadar troponin dapat menjadi petunjuk penting dalam diagnosis serangan jantung.

3. Ekokardiografi

Pemeriksaan menggunakan gelombang suara untuk melihat struktur dan kemampuan jantung dalam memompa darah.

4. Pemeriksaan pembuluh darah koroner

Dokter dapat merekomendasikan angiografi koroner untuk melihat penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah jantung.

Pemeriksaan yang dipilih bergantung pada kondisi pasien dan hasil evaluasi awal. Pada dugaan serangan jantung, penanganan darurat tidak boleh ditunda hanya untuk menunggu seluruh pemeriksaan selesai.

5. Kapan nyeri dada harus diwaspadai?

Nyeri dada yang muncul secara tiba-tiba, terutama jika disertai sesak napas, keringat dingin, mual, atau rasa nyeri yang menjalar ke lengan dan rahang, perlu mendapat perhatian serius.

Segera cari pertolongan medis darurat apabila mengalami kondisi berikut:

– Nyeri atau tekanan dada yang baru muncul dan tidak diketahui penyebabnya.
– Nyeri dada yang berlangsung beberapa menit, tidak membaik, atau hilang kemudian muncul kembali.
– Nyeri dada yang muncul ketika sedang beristirahat.
– Keluhan dada yang semakin sering, berat, atau berlangsung lebih lama dari biasanya.
– Nyeri dada disertai sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, atau hampir pingsan.

Jangan menunggu sampai nyeri terasa sangat hebat untuk mencari pertolongan. Hubungi layanan darurat atau minta bantuan medis untuk membawa pasien ke instalasi gawat darurat. Sebisa mungkin, jangan mengemudikan kendaraan sendiri.

Jika seseorang sudah memiliki riwayat angina dan mengalami perubahan pola gejala, kondisi tersebut juga perlu segera diperiksa. Angina yang sebelumnya hanya muncul saat beraktivitas tetapi kemudian terjadi ketika beristirahat dapat menjadi tanda gangguan jantung yang lebih serius.

Baca juga: Nyeri dada bukan masuk angin, ini gejala angin duduk dan penyebabnya

6. Cara mengurangi risiko angin duduk dan serangan jantung

Sebagian faktor risiko penyakit jantung berkaitan dengan gaya hidup dan kondisi kesehatan yang dapat dikendalikan. Beberapa langkah berikut dapat membantu menjaga kesehatan jantung.

1. Berhenti merokok

Zat dalam rokok dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

2. Menjaga tekanan darah

Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan beban kerja jantung dan merusak pembuluh darah.

3. Mengendalikan kadar kolesterol dan gula darah

Kolesterol tinggi dan diabetes dapat meningkatkan risiko penyempitan pembuluh darah koroner.

4. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang

Perbanyak sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, serta sumber protein yang lebih sehat. Batasi konsumsi garam, gula, dan lemak jenuh secara berlebihan.

5. Melakukan aktivitas fisik secara teratur

Pilih olahraga sesuai kemampuan dan kondisi kesehatan. Orang yang sudah mengalami angina sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum meningkatkan intensitas olahraga.

6. Menjaga berat badan

Berat badan berlebih dapat berkaitan dengan tekanan darah tinggi, diabetes, dan gangguan kadar kolesterol.

7. Melakukan pemeriksaan kesehatan

Periksa tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol secara berkala, terutama jika memiliki faktor risiko atau riwayat penyakit jantung dalam keluarga.

Langkah tersebut dapat membantu mengurangi faktor risiko, tetapi tidak menjamin seseorang sepenuhnya terhindar dari penyakit jantung.

Angin duduk dan serangan jantung merupakan dua kondisi yang sama-sama berkaitan dengan terganggunya aliran darah menuju otot jantung. Angina stabil biasanya muncul saat beraktivitas dan mereda setelah beristirahat, sedangkan serangan jantung dapat menyebabkan kerusakan otot jantung akibat terhambatnya aliran darah.

Meski demikian, keduanya tidak selalu mudah dibedakan hanya berdasarkan gejala. Angina tidak stabil bahkan dapat menjadi tanda kondisi darurat yang berisiko berkembang menjadi serangan jantung.

Oleh karena itu, jangan menganggap remeh nyeri dada, terutama jika muncul secara mendadak, semakin berat, atau disertai sesak napas dan keringat dingin. Pemeriksaan serta pertolongan medis sedini mungkin sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

Baca juga: Nyeri dada bisa jadi tanda anak alami GERD

Baca juga: Dokter: Kerokan tidak disarankan saat alami nyeri dada

Baca juga: Dokter: Nyeri dada seperti ditusuk tanda ada robekan dinding aorta

Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.