
Jakarta (ANTARA) – Kondisi keuangan tidak hanya memengaruhi kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mental.
Tagihan yang menumpuk, pendapatan yang tidak menentu, cicilan, hingga kekhawatiran tentang masa depan bisa membuat seseorang terus memikirkan uang meskipun sedang tidak menghadapi masalah keuangan secara langsung.
Kecemasan yang berkaitan dengan kondisi keuangan ini dikenal dengan istilah financial anxiety. Perasaan tersebut dapat muncul ketika seseorang merasa tidak aman secara finansial, takut kehabisan uang, atau khawatir tidak mampu memenuhi kebutuhan pada masa mendatang.
Tekanan finansial juga menjadi perhatian dalam survei kesehatan mental di berbagai negara. Survei American Psychiatric Association pada Mei 2026 menemukan bahwa 62 persen responden dewasa di Amerika Serikat merasa sangat cemas atau agak cemas tentang pembayaran tagihan dan pengeluaran.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan keuangan menjadi salah satu sumber kecemasan yang banyak dirasakan masyarakat, meskipun hasil survei itu tidak dapat langsung menggambarkan kondisi penduduk Indonesia.
Baca juga: Alasan kecemasan kerap terjadi saat malam hari
Apa itu financial anxiety?
Financial anxiety adalah kecemasan atau kekhawatiran berlebihan yang berkaitan dengan uang dan kondisi keuangan. Perasaan ini dapat muncul ketika seseorang menghadapi kesulitan ekonomi maupun ketika kondisi keuangannya sebenarnya cukup stabil, tetapi ia tetap takut mengalami masalah pada masa mendatang.
Kekhawatiran tersebut bisa berkaitan dengan kemampuan membayar kebutuhan pokok, melunasi utang, kehilangan pekerjaan, menyiapkan dana darurat, atau memenuhi kebutuhan keluarga. Dalam beberapa situasi, seseorang juga dapat merasa bersalah setiap kali mengeluarkan uang, termasuk untuk kebutuhan yang sebenarnya sudah direncanakan.
Kecemasan tentang uang tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan kesehatan mental. Namun, ketika kekhawatiran berlangsung terus-menerus, sulit dikendalikan, dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian.
American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa masalah keuangan merupakan salah satu sumber stres yang dapat memengaruhi kesejahteraan seseorang. Menghindari persoalan keuangan karena merasa takut atau malu juga berpotensi membuat masalah semakin sulit ditangani.
Baca juga: Doomscrolling dapat tingkatkan kecemasan dan ganggu kualitas tidur
Tanda-tanda financial anxiety yang perlu dikenali
Kecemasan finansial dapat terlihat melalui pola pikir, kebiasaan mengelola uang, hingga perubahan kondisi emosional. Berikut beberapa tanda yang perlu diperhatikan.
1. Terus-menerus memikirkan kondisi keuangan
Seseorang bisa terus memikirkan tagihan, utang, penghasilan, atau kemungkinan kehilangan pekerjaan. Pikiran tersebut bahkan muncul ketika sedang bekerja, beristirahat, atau hendak tidur sehingga sulit berkonsentrasi pada aktivitas lain.
2. Takut memeriksa saldo rekening dan tagihan
Sebagian orang memilih tidak membuka aplikasi perbankan, menghindari pesan penagihan, atau menunda memeriksa tagihan karena takut melihat jumlah uang yang tersisa. Kebiasaan menghindari persoalan keuangan ini justru dapat membuat masalah semakin sulit diselesaikan.
3. Merasa bersalah setiap kali mengeluarkan uang
Membeli kebutuhan pribadi, makan bersama teman, atau menikmati hiburan sederhana bisa menimbulkan rasa bersalah yang berlebihan. Bahkan ketika pengeluaran masih sesuai anggaran, seseorang tetap merasa telah melakukan kesalahan atau khawatir akan kekurangan uang setelahnya.
4. Sulit tidur karena memikirkan uang
Kekhawatiran tentang cicilan, biaya hidup, atau kebutuhan keluarga dapat terbawa hingga waktu tidur. Tekanan finansial yang berlangsung lama juga berkaitan dengan masalah tidur, kelelahan, dan kesulitan berkonsentrasi.
5. Menghindari pembicaraan tentang keuangan
Seseorang mungkin merasa malu atau takut ketika harus membicarakan gaji, utang, pengeluaran rumah tangga, atau kondisi keuangannya dengan pasangan dan keluarga. Akibatnya, persoalan yang seharusnya bisa dibicarakan bersama justru dipendam sendiri.
6. Mengalami perubahan emosi saat membahas uang
Memikirkan pengeluaran atau menerima tagihan dapat memicu rasa gelisah, mudah marah, sedih, atau panik. Pada sebagian orang, kecemasan juga dapat disertai keluhan fisik, seperti jantung berdebar dan tubuh terasa tegang.
Tanda-tanda tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami financial anxiety. Kesulitan keuangan memang dapat memicu kekhawatiran yang wajar. Hal yang perlu diperhatikan adalah seberapa sering perasaan itu muncul, seberapa sulit mengendalikannya, dan sejauh mana dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Kecemasan dapat mempengaruhi kualitas sperma dan sel telur
Penyebab financial anxiety
Kecemasan finansial dapat dipengaruhi oleh berbagai keadaan. Pendapatan yang tidak sebanding dengan biaya hidup, utang yang menumpuk, ketidakpastian pekerjaan, serta tanggungan keluarga merupakan sejumlah faktor yang dapat memicu tekanan.
Selain kondisi ekonomi, pengalaman masa lalu juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang uang. Orang yang pernah mengalami kesulitan ekonomi mungkin menjadi lebih takut kehilangan tabungan atau mengalami kekurangan pada masa mendatang.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Open Innovation: Technology, Market, and Complexity pada 2025 turut mengkaji hubungan tekanan keuangan dengan perilaku finansial masyarakat Indonesia. Studi tersebut melibatkan 514 responden di Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan dalam mengelola uang sehari-hari berkaitan dengan meningkatnya tekanan finansial. Penelitian itu juga menemukan bahwa tekanan finansial berhubungan dengan perilaku pengelolaan uang yang kurang optimal. Meski demikian, hasil penelitian terhadap responden di tiga kota tersebut tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh penduduk Indonesia.
Baca juga: Studi: Makan manis sejak dini berisiko pengaruhi kecemasan
Cara mengelola kecemasan finansial
Kecemasan tentang uang tidak selalu dapat hilang hanya dengan menambah penghasilan. Selain memperbaiki kondisi keuangan, seseorang juga perlu memahami pola pikir dan kebiasaan yang muncul ketika menghadapi persoalan finansial.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan
1. Catat pemasukan dan pengeluaran
Mulailah dengan mencatat jumlah penghasilan, kebutuhan pokok, cicilan, dan pengeluaran lainnya. Catatan tersebut membantu memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kondisi keuangan sehingga keputusan dapat dibuat berdasarkan data, bukan hanya kekhawatiran.
2. Susun anggaran sesuai kemampuan
Prioritaskan kebutuhan pokok, kewajiban pembayaran, dan kebutuhan penting lainnya. Jika penghasilan terbatas, anggaran dapat disesuaikan dengan kondisi nyata tanpa memaksakan target tabungan yang sulit dicapai.
3. Pecah masalah menjadi langkah kecil
Utang, tagihan, atau kebutuhan dana darurat mungkin terasa berat jika dipikirkan sekaligus. Cobalah menentukan satu langkah yang dapat dilakukan terlebih dahulu, misalnya menyusun daftar utang, menghubungi pihak pemberi pinjaman untuk membahas pilihan pembayaran, atau mulai menyisihkan dana sesuai kemampuan.
4. Batasi kebiasaan membandingkan kondisi keuangan
Melihat pencapaian finansial orang lain di media sosial dapat menimbulkan perasaan tertinggal. Padahal, seseorang tidak selalu mengetahui kondisi sebenarnya di balik gaya hidup yang ditampilkan. Fokuslah pada kebutuhan, kemampuan, dan tujuan finansial pribadi.
5. Cari bantuan jika kecemasan mengganggu aktivitas
Jika kekhawatiran tentang uang terus berulang hingga mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan dengan orang terdekat, atau aktivitas sehari-hari, pertimbangkan untuk berbicara dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental. Konsultasi dengan perencana keuangan atau konselor keuangan juga dapat membantu mengurai masalah pengelolaan uang secara lebih terstruktur.
Financial anxiety merupakan kondisi yang perlu dipahami tanpa menghakimi diri sendiri. Kekhawatiran tentang uang tidak selalu mencerminkan kegagalan seseorang dalam mengatur keuangan. Dengan mengenali tanda-tandanya, memahami pemicu, dan mengambil langkah yang realistis, tekanan finansial dapat dikelola secara lebih sehat.
Baca juga: Kecemasan bisa menjadi gejala psikologis, bukan diagnosis
Baca juga: Masalah kesehatan mental bisa muncul seiring tugas perkembangan usia
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
