
Jakarta (ANTARA) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 21 Agustus 2026 menyebut lebih dari tiga juta warga di 37 kabupaten/kota terdampak langsung kabut asap akibat karhutla di tujuh provinsi, yakni Jambi, Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Kemenkes bahkan mengerahkan tenaga kesehatan dan bantuan logistik untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat memburuknya kualitas udara. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena asap karhutla bukan sekadar mengganggu jarak pandang atau membuat udara berbau, namun juga menyebabkan beberapa penyakit yang menyerang masyarakat di wilayah terdampak.
Asap mengandung berbagai polutan, termasuk partikel halus PM2,5 yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak untuk menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Baca juga: Kebakaran hutan melanda Canterbury di Selandia Baru
Baca juga: Ekonom: Dampak ekonomi yang timbulkan oleh karhutla jauh lebih luas
Lantas, penyakit apa saja yang dapat muncul atau memburuk akibat paparan asap kebakaran hutan?
1. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)
ISPA menjadi salah satu gangguan kesehatan yang paling sering dikaitkan dengan paparan asap karhutla.
Partikel dan zat pencemar yang terdapat dalam asap dapat mengiritasi saluran pernapasan. Akibatnya, seseorang bisa mengalami batuk, pilek, tenggorokan terasa tidak nyaman, hingga kesulitan bernapas.
Kemenkes mencatat paparan asap kebakaran hutan dapat meningkatkan risiko ISPA. Pada 2026, lonjakan kasus bahkan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah terdampak. Di Kalimantan Tengah, misalnya, kasus ISPA meningkat dari 402 menjadi 716 kasus dalam satu pekan atau sekitar 78,1 persen.
2. Pneumonia
Paparan asap karhutla juga dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko pneumonia, terutama pada kelompok yang rentan.
Pneumonia merupakan infeksi yang menyebabkan peradangan pada jaringan paru-paru. Kondisi ini dapat membuat penderitanya mengalami batuk, demam, sesak napas, dan tubuh terasa lemah.
Kemenkes memasukkan pneumonia sebagai salah satu penyakit yang dapat muncul pada masyarakat di wilayah yang terdampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan.
Risikonya perlu lebih diperhatikan pada anak-anak, lansia, serta orang yang sebelumnya sudah memiliki masalah pada paru-paru.
3. Asma dapat kambuh atau memburuk
Bagi orang yang memiliki asma, asap kebakaran hutan bisa menjadi masalah serius.
Partikel halus dalam asap dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu gejala seperti batuk, sesak, atau napas berbunyi. Karena itu, seseorang yang memiliki asma bisa mengalami kekambuhan ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap.
Kemenkes menyebut penderita asma termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak asap kebakaran hutan.
4. Penyakit paru dapat semakin berat
Asap karhutla tidak hanya berpotensi menimbulkan gangguan pernapasan pada orang yang sebelumnya sehat. Bagi seseorang yang sudah memiliki penyakit paru, paparan asap dapat membuat kondisi tersebut semakin berat.
Baca juga: BMKG deteksi 2.610 titik panas di Pulau Sumatera
Salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian adalah penderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Partikel halus dari asap dapat masuk ke saluran pernapasan dan memperburuk gangguan yang sudah ada.
Karena itu, penderita penyakit paru sebaiknya lebih berhati-hati ketika kualitas udara di wilayah tempat tinggal sedang buruk.
5. Iritasi mata
Tidak semua dampak asap karhutla berupa penyakit saluran pernapasan. Mata juga dapat terkena dampaknya.
Paparan asap dapat menyebabkan mata terasa perih, merah, gatal, atau berair. Kemenkes menyebut iritasi pada selaput lendir mata merupakan salah satu keluhan yang umum muncul akibat paparan kabut asap.
Keluhan ini biasanya semakin terasa ketika seseorang berada di luar ruangan dalam kondisi kualitas udara yang buruk.
6. Iritasi kulit
Asap dan berbagai partikel pencemar di udara juga dapat menyebabkan iritasi pada kulit pada sebagian orang.
Kemenkes memasukkan penyakit kulit sebagai salah satu masalah kesehatan yang dapat dirasakan masyarakat di wilayah yang mengalami kabut asap akibat karhutla.
Keluhannya dapat berupa rasa gatal atau tidak nyaman pada kulit. Kondisi setiap orang tentu berbeda, sehingga keluhan yang menetap atau semakin parah sebaiknya diperiksakan ke tenaga kesehatan.
7. Gangguan pada jantung
Dampak asap karhutla juga tidak terbatas pada sistem pernapasan. Paparan polusi udara dapat menjadi perhatian bagi orang yang memiliki penyakit jantung.
Partikel halus seperti PM2,5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Kemenkes menyebut kelompok dengan penyakit jantung sebelumnya termasuk masyarakat yang lebih rentan terhadap dampak asap kebakaran hutan.
Karena itu, kelompok tersebut perlu lebih waspada ketika kualitas udara memburuk dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan masing-masing.
8. Sakit kepala dan keluhan lainnya
Paparan asap dalam jumlah tinggi juga dapat disertai keluhan seperti sakit kepala, mual, dan rasa tidak nyaman pada tubuh.
Baca juga: BMKG deteksi lonjakan 1.104 titik panas di Pulau Sumatera
Baca juga: Kebakaran hutan TN Way Kambas masih dalam proses pemadaman
Kemenkes mencatat sakit kepala dan iritasi mata termasuk keluhan yang cukup banyak dilaporkan dalam kondisi kabut asap.
Meski keluhan tersebut terlihat ringan, kondisi bisa menjadi lebih mengganggu jika paparan berlangsung terus-menerus atau kualitas udara berada pada tingkat yang buruk.
Mengapa asap karhutla berbahaya?
Salah satu masalah utama dari asap kebakaran hutan adalah kandungan partikel halusnya. PM2,5 memiliki diameter kurang dari 2,5 mikrometer sehingga ukurannya sangat kecil dan dapat terhirup hingga bagian dalam paru-paru.
Selain partikel, asap kebakaran juga dapat mengandung berbagai bahan pencemar lain. Karena itu, semakin lama seseorang terpapar asap dan semakin buruk kualitas udaranya, semakin besar pula perhatian yang perlu diberikan terhadap kesehatan.
Kelompok tertentu juga memiliki risiko lebih tinggi, seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan riwayat asma, penyakit paru, atau penyakit jantung.
Jangan abaikan gejala setelah terpapar asap
Ketika wilayah tempat tinggal mulai terdampak kabut asap, masyarakat sebaiknya memperhatikan kondisi kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Kemenkes juga mengimbau masyarakat menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar rumah. Jika muncul keluhan kesehatan yang mengganggu, masyarakat dianjurkan segera mencari pertolongan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Terlebih bagi orang yang sudah memiliki penyakit seperti asma atau penyakit paru dan jantung, paparan asap sebaiknya tidak dianggap sepele.
Karhutla yang saat ini terjadi di Kalimantan dan sejumlah wilayah Sumatra menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran hutan tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Asap yang dihasilkan dapat memengaruhi kualitas udara dan kesehatan masyarakat di wilayah yang cukup jauh dari lokasi kebakaran.
Oleh karena itu, penanganan karhutla bukan hanya soal memadamkan api, tapi juga soal melindungi masyarakat dari dampak asap serta memastikan kualitas udara tetap aman untuk aktivitas sehari-hari.
Baca juga: Dampak kebakaran hutan bagi lingkungan yang jarang disadari
Baca juga: Penyebab kebakaran hutan dan cara menanggulanginya
Baca juga: 7 Penyebab kebakaran hutan yang sering terjadi di Indonesia
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
