
Jakarta (ANTARA) – Kebiasaan terus menggulir media sosial untuk membaca berita buruk atau informasi negatif semakin sering menjadi perhatian. Perilaku yang dikenal sebagai doomscrolling ini dapat membuat seseorang sulit berhenti meski informasi yang dibaca justru memicu rasa cemas.
Istilah doomscrolling merujuk pada kebiasaan mengonsumsi informasi negatif secara terus-menerus melalui ponsel, media sosial, atau platform berita.
Fenomena ini semakin banyak dibahas sejak pandemi COVID-19, ketika masyarakat menghadapi arus informasi mengenai kasus, kematian, kebijakan, dan berbagai risiko kesehatan secara terus-menerus.
Baca juga: Orang tua anak neurodivergen diminta cermat pilah informasi di medsos
Baca juga: Psikolog: Perilaku di medsos cerminkan karakter & integritas seseorang
Mengapa orang melakukan doomscrolling?
Ada beberapa alasan yang dapat membuat seseorang terus mencari dan membaca informasi negatif.
1. Ingin mengetahui perkembangan terbaru
Ketika terjadi peristiwa yang dianggap mengancam atau tidak pasti, manusia secara alami terdorong mencari informasi untuk memahami situasi. Mencari informasi sebenarnya dapat membantu seseorang mengambil keputusan, tetapi kebiasaan tersebut dapat berubah menjadi berlebihan ketika dilakukan tanpa batas.
2. Rasa takut ketinggalan informasi
Media sosial memungkinkan informasi baru muncul hampir tanpa henti. Seseorang yang merasa harus selalu mengetahui perkembangan terbaru dapat terus menggulir layar meski sebenarnya sudah mendapatkan informasi yang cukup.
Kondisi tersebut dapat membuat aktivitas membaca berita berubah menjadi siklus berulang, yakni mencari informasi baru, menemukan kabar negatif, merasa khawatir, kemudian kembali mencari informasi untuk mengurangi ketidakpastian.
3. Algoritma membuat pengguna terus menemukan konten
Platform digital menggunakan sistem rekomendasi untuk menampilkan konten yang dianggap relevan dengan minat pengguna. Ketika seseorang sering membuka berita atau unggahan tertentu, konten serupa dapat terus muncul di layar.
Akibatnya, pengguna bisa dengan mudah berpindah dari satu berita negatif ke berita lainnya tanpa menyadari berapa lama waktu yang telah dihabiskan.
4. Merasa lebih siap menghadapi ancaman
Membaca informasi mengenai kemungkinan buruk dapat memberikan perasaan bahwa seseorang sedang mempersiapkan diri. Namun, jika informasi yang dikonsumsi terus bertambah tanpa menghasilkan tindakan yang jelas, kebiasaan tersebut justru dapat meningkatkan tekanan psikologis.
Penelitian eksperimental menemukan bahwa paparan singkat terhadap berita negatif terkait COVID-19 selama sekitar dua hingga empat menit sudah dapat menurunkan suasana hati positif dan optimisme peserta.
Baca juga: Psikolog: terapkan “pause before posting” saat emosi meningkat
Apa dampak doomscrolling?
Dampaknya dapat berbeda pada setiap orang. Namun, penelitian menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan media sosial bermasalah dan sejumlah persoalan kesehatan mental.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang mencakup 182 penelitian dengan total lebih dari 1,1 juta peserta menemukan hubungan positif antara penggunaan media sosial dan gejala depresi serta kecemasan. Penggunaan media sosial yang bermasalah juga berkaitan dengan gangguan tidur dan kesejahteraan yang lebih rendah.
Penelitian lain selama pandemi yang menggunakan penilaian harian juga menemukan bahwa akses terhadap media sosial berkaitan dengan peningkatan gejala depresi dan PTSD pada kelompok yang diteliti. Namun, hubungan tersebut tidak berarti penggunaan media sosial secara langsung menyebabkan gangguan mental pada setiap orang.
1. Meningkatkan rasa cemas
Paparan berulang terhadap berita negatif dapat membuat seseorang terus memikirkan berbagai kemungkinan buruk. Ketidakpastian yang belum terjawab kemudian mendorong orang kembali mencari informasi.
2. Mengganggu suasana hati
Penelitian yang menguji paparan singkat terhadap berita COVID-19 menemukan penurunan emosi positif setelah peserta membaca atau menonton informasi negatif tersebut.
3. Mengganggu waktu tidur
Doomscrolling yang dilakukan pada malam hari dapat membuat seseorang terus menggunakan ponsel ketika seharusnya mulai beristirahat. Secara lebih luas, penelitian menunjukkan penggunaan media sosial yang bermasalah berkaitan dengan masalah tidur.
Kurang tidur sendiri juga dapat memengaruhi kondisi emosional. Meta-analisis terhadap 154 penelitian menemukan bahwa berbagai bentuk kehilangan tidur berkaitan dengan berkurangnya emosi positif serta meningkatnya gejala kecemasan.
Baca juga: Prancis akan terapkan pembatasan medsos untuk anak di bawah 15 tahun
Cara mengurangi kebiasaan doomscrolling
Kebiasaan tersebut tidak harus dihentikan dengan meninggalkan media sosial sepenuhnya. Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan untuk mengontrol penggunaannya.
1. Tentukan batas waktu
Tentukan waktu khusus untuk membaca berita atau membuka media sosial. Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, berhenti menggulir layar.
2. Hindari membuka berita sebelum tidur
Berikan jeda antara penggunaan ponsel dan waktu tidur. Cara ini dapat membantu mencegah kebiasaan terus mencari informasi ketika tubuh seharusnya beristirahat.
3. Matikan notifikasi yang tidak diperlukan
Notifikasi berita dan media sosial dapat menjadi pemicu seseorang kembali membuka aplikasi. Mematikan notifikasi yang tidak penting dapat membantu mengurangi dorongan tersebut.
4. Periksa sumber informasi
Tidak semua unggahan di media sosial merupakan informasi yang benar. Membatasi konsumsi informasi dari sumber yang kredibel juga dapat mengurangi waktu yang dihabiskan untuk mencari klarifikasi dari berbagai unggahan.
5. Seimbangkan informasi negatif
Penelitian menunjukkan bahwa paparan konten mengenai tindakan kebaikan tidak memberikan dampak emosional negatif yang sama seperti paparan berita COVID-19 dalam eksperimen yang dilakukan. Karena itu, konsumsi informasi dapat diseimbangkan dengan konten positif dan aktivitas di luar layar.
6. Berhenti ketika mulai merasa semakin cemas
Jika membaca berita justru membuat pikiran semakin gelisah tanpa memberikan manfaat praktis, mengambil jeda dapat menjadi pilihan. Lakukan aktivitas lain seperti berjalan kaki, berbicara dengan orang terdekat, membaca buku, atau beristirahat.
Doomscrolling bukan sekadar kebiasaan membaca berita
Pada dasarnya, mengikuti berita bukan sesuatu yang buruk. Informasi membantu masyarakat memahami berbagai peristiwa dan mengambil keputusan.
Masalah muncul ketika pencarian informasi berubah menjadi kebiasaan yang sulit dikendalikan dan terus dilakukan meski sudah menimbulkan kecemasan, mengganggu aktivitas atau mengurangi waktu tidur.
Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya berapa lama seseorang menggunakan media sosial, tetapi juga jenis informasi yang dikonsumsi dan bagaimana pengaruhnya terhadap kondisi sehari-hari.
Penelitian menunjukkan penggunaan media sosial secara umum memiliki hasil yang beragam, sedangkan penggunaan yang bermasalah lebih konsisten berkaitan dengan kesehatan mental dan gangguan tidur.
Jika kebiasaan tersebut sudah mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan sosial, atau menimbulkan kecemasan yang sulit dikendalikan, seseorang dapat mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Baca juga: Terlalu sering scroll, remaja rentan cemas dan turun percaya diri
Baca juga: Beda manfaat baca buku dengan “scrolling” media sosial
Baca juga: Menko PMK: Gulir medsos tanpa tujuan tantangan tingkatkan minat baca
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
