7 Mitos tentang kehamilan yang masih dipercaya orang Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Kehamilan sering menjadi fase yang dipenuhi banyak nasihat, terutama dari keluarga dan orang-orang di sekitar. Di Indonesia, tidak sedikit calon ibu yang sejak awal kehamilan mendapat berbagai pantangan, mulai dari makanan tertentu hingga larangan melakukan aktivitas tertentu. Sebagian nasihat tersebut memang berangkat dari pengalaman atau tradisi yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi.

Masalahnya, tidak semua kepercayaan tersebut memiliki dasar medis. Bahkan, beberapa mitos dapat membuat ibu hamil menghindari makanan bergizi atau merasa khawatir melakukan aktivitas yang sebenarnya aman selama kondisi kehamilan sehat.

Baca juga: Manfaat minum kacang hijau untuk kehamilan hingga kesehatan jantung

Baca juga: Kehamilan dengan anemia berisiko sebabkan komplikasi pada ibu dan bayi

Karena itu, penting membedakan antara tradisi dan fakta medis. Berikut tujuh mitos tentang kehamilan yang masih sering dipercaya dan penjelasan di baliknya.

1. Makan nanas bisa menyebabkan keguguran

Nanas menjadi salah satu buah yang cukup sering masuk daftar pantangan bagi ibu hamil. Ada anggapan bahwa kandungan tertentu dalam nanas dapat memicu kontraksi dan menyebabkan keguguran.

Padahal, tidak ada anjuran umum dari lembaga medis yang melarang ibu hamil mengonsumsi nanas sebagai bagian dari pola makan sehat. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) justru memasukkan buah sebagai bagian dari makanan yang dapat dikonsumsi selama kehamilan.

Yang perlu diperhatikan adalah pola makan secara keseluruhan dan kondisi kesehatan masing-masing. Jika memiliki kondisi medis tertentu atau mendapatkan pantangan khusus dari dokter, tentu anjuran tersebut perlu diikuti.

2. Ibu hamil harus makan untuk dua orang

“Sedang hamil, berarti harus makan untuk dua.” Nasihat ini mungkin terdengar familiar. Namun, makan untuk dua orang bukan berarti porsi makanan harus dibuat dua kali lipat.

ACOG menjelaskan bahwa kebutuhan kalori selama kehamilan memang meningkat, tetapi umumnya hanya membutuhkan tambahan beberapa ratus kalori per hari, bukan menggandakan jumlah makanan. Yang lebih penting adalah memilih makanan dengan kandungan gizi yang baik.

Karena itu, istilah yang lebih tepat adalah “makan untuk dua, tetapi bukan makan dua kali lebih banyak”.

Baca juga: Studi: Ketidakseimbangan tiroid selama hamil tingkatkan risiko autisme

3. Bentuk perut bisa menentukan jenis kelamin bayi

Mitos lain yang cukup populer adalah menebak jenis kelamin bayi dari bentuk perut. Perut yang dianggap lebih tinggi atau runcing sering dikaitkan dengan bayi laki-laki, sedangkan bentuk tertentu dipercaya menandakan bayi perempuan.

Padahal, bentuk perut tidak bisa digunakan untuk menentukan jenis kelamin bayi. NHS secara khusus menjelaskan bahwa posisi atau bentuk benjolan perut bukan cara untuk mengetahui apakah bayi laki-laki atau perempuan.

Jenis kelamin janin dapat diketahui melalui pemeriksaan medis tertentu, meskipun hasil pemeriksaan seperti USG juga bergantung pada posisi bayi dan faktor lainnya.

4. Ibu hamil tidak boleh berolahraga

Ada pula anggapan bahwa ibu hamil sebaiknya lebih banyak berbaring dan menghindari aktivitas fisik karena olahraga dikhawatirkan membahayakan janin.

Faktanya, aktivitas fisik justru dapat menjadi bagian dari kehamilan yang sehat selama tidak ada kondisi medis tertentu yang membuat olahraga perlu dibatasi. ACOG menyebut olahraga selama kehamilan dapat membantu menjaga kenaikan berat badan yang sehat, menurunkan risiko beberapa komplikasi dan membantu mengurangi sejumlah keluhan selama kehamilan.

Namun, jenis dan intensitas aktivitas tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kehamilan. Jika memiliki komplikasi atau kondisi khusus, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan.

5. Hubungan seksual selama hamil pasti membahayakan bayi

Mitos mengenai hubungan seksual selama kehamilan juga masih sering muncul. Sebagian orang menganggap aktivitas tersebut dapat langsung membahayakan janin atau menyebabkan keguguran.

ACOG menyebut hubungan seksual selama kehamilan pada umumnya dapat dilakukan, kecuali dokter kandungan memberikan anjuran untuk menghindarinya karena kondisi medis tertentu.

Karena setiap kehamilan memiliki kondisi yang berbeda, ibu hamil sebaiknya mengikuti arahan tenaga kesehatan, terutama jika terdapat komplikasi atau keluhan tertentu.

Baca juga: Tiga nutrisi esensial yang baik untuk janin menurut ahli

6. Semua makanan harus dihindari saat hamil

Mitos ini sebenarnya merupakan kebalikan dari informasi yang benar. Memang ada makanan dan minuman tertentu yang perlu dihindari atau dibatasi selama kehamilan, tetapi bukan berarti hampir semua makanan menjadi pantangan.

ACOG menjelaskan bahwa ibu hamil tetap dapat mengonsumsi beragam buah, sayuran, protein, produk susu dan makanan lainnya. Beberapa hal yang memang perlu diperhatikan antara lain makanan mentah atau kurang matang, susu dan produk susu yang tidak dipasteurisasi, serta jenis ikan tertentu yang memiliki kandungan merkuri tinggi.

Jadi, daripada mengikuti daftar pantangan yang beredar tanpa dasar, lebih baik mengetahui jenis makanan yang memang memiliki risiko berdasarkan rekomendasi medis.

7. USG terlalu sering bisa membahayakan bayi

Pemeriksaan ultrasonografi atau USG terkadang juga dikaitkan dengan berbagai kekhawatiran. Salah satunya adalah anggapan bahwa gelombang dari alat USG dapat membahayakan janin jika dilakukan saat kehamilan.

USG menggunakan gelombang suara, bukan radiasi pengion seperti yang digunakan pada pemeriksaan sinar-X. ACOG menyebut belum ada bukti bahwa USG diagnostik menyebabkan cacat lahir, kanker pada masa kanak-kanak atau gangguan perkembangan. Meski demikian, pemeriksaan tetap dianjurkan dilakukan untuk alasan medis oleh tenaga kesehatan yang berkualifikasi.

Artinya, USG bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Pemeriksaan tersebut justru digunakan untuk memantau perkembangan dan kondisi janin selama kehamilan.

Jangan langsung percaya semua pantangan kehamilan

Mitos tentang kehamilan kemungkinan akan terus muncul karena sebagian berasal dari tradisi keluarga dan kebiasaan masyarakat yang telah berlangsung lama. Tidak semuanya harus dianggap buruk, terutama jika sekadar menjadi bagian dari budaya dan tidak mengganggu kesehatan.

Namun, ketika sebuah pantangan membuat ibu hamil menghindari makanan bergizi, takut beraktivitas, atau menunda pemeriksaan medis, informasi tersebut perlu dipertanyakan kembali.

ACOG sendiri menyoroti bahwa misinformasi mengenai kesehatan kehamilan dapat menyulitkan masyarakat mendapatkan informasi yang berbasis bukti. Karena itu, informasi mengenai kehamilan sebaiknya diperoleh dari dokter, bidan, atau sumber kesehatan yang kredibel.

Pada akhirnya, tidak semua hal yang terdengar sejak kecil harus diterima sebagai fakta medis. Tradisi boleh tetap dihargai, tetapi kesehatan ibu dan janin tetap perlu menjadi pertimbangan utama.

Jika memiliki pertanyaan mengenai makanan, aktivitas, obat, pemeriksaan atau keluhan selama kehamilan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Kondisi setiap kehamilan berbeda sehingga saran yang tepat untuk satu orang belum tentu berlaku untuk orang lain.

Baca juga: Kecemasan dapat mempengaruhi kualitas sperma dan sel telur

Baca juga: Faktor yang memengaruhi perencanaan kehamilan

Baca juga: Dokter: Akupuntur medik bisa kurangi keluhan selama kehamilan

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.