
Jakarta (ANTARA) – Kurang tidur atau insomnia merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup umum dialami masyarakat. Di tengah tuntutan pekerjaan, aktivitas yang padat, hingga kebiasaan begadang, banyak orang mengabaikan pentingnya waktu istirahat yang cukup. Padahal, tidur bukan sekadar menghilangkan rasa lelah, tetapi juga berperan penting dalam menjaga fungsi berbagai organ tubuh, termasuk jantung.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan kurang tidur dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kardiovaskular. Efek begadang yang dilakukan secara terus-menerus tidak hanya membuat tubuh mudah lelah, tetapi juga dapat mengganggu kerja jantung dan pembuluh darah sehingga meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, gangguan irama jantung, hingga penyakit jantung koroner.
Saat seseorang kurang tidur, tubuh mengalami perubahan pada sistem saraf otonom yang berfungsi mengatur detak jantung dan tekanan darah. Kondisi tersebut dapat menyebabkan tekanan darah meningkat, terutama pada individu yang telah mengalami hipertensi atau prahipertensi. Selain itu, kurang tidur juga memengaruhi fungsi ginjal, keseimbangan hormon, serta respons baroreseptor yang berperan dalam menjaga kestabilan tekanan darah.
Melansir dari Direktorat Kesehatan Lanjutan Kemenkes, gangguan tidur juga dapat memengaruhi ritme jantung. Sejumlah penelitian menemukan bahwa kurang tidur meningkatkan risiko terjadinya aritmia atau gangguan irama jantung, termasuk takikardia ventrikel dan fibrilasi ventrikel. Gangguan tersebut terjadi karena aktivitas sistem saraf yang mengendalikan denyut jantung menjadi tidak seimbang sehingga ritme jantung lebih mudah mengalami kelainan.
Baca juga: Studi: Kurang tidur semasa kecil rentan picu depresi usia remaja
Selain berdampak pada tekanan darah dan detak jantung, kurang tidur juga memicu peradangan dalam tubuh. Kondisi ini ditandai dengan meningkatnya produksi zat pemicu inflamasi seperti interleukin-6 (IL-6) dan C-reactive protein (CRP). Kadar kedua zat tersebut yang tinggi dapat merusak lapisan pembuluh darah, memicu aterosklerosis atau penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan plak, serta meningkatkan risiko penyakit jantung.
Kurang tidur juga memengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan meningkatkan aktivitas beberapa jenis sel darah putih yang berperan dalam proses inflamasi. Peradangan kronis yang berlangsung dalam jangka panjang menjadi salah satu faktor utama berkembangnya penyakit kardiovaskular.
Berbagai penelitian di sejumlah negara juga menunjukkan hubungan antara jam kerja yang panjang, kurang tidur, dan meningkatnya risiko penyakit jantung. Sebuah studi prospektif di Amerika Serikat menemukan bahwa tingkat kematian akibat penyakit jantung koroner lebih tinggi pada individu yang bekerja lebih dari 67 jam setiap pekan. Penelitian lain di Belanda, Denmark, Swedia, hingga Jepang juga melaporkan bahwa waktu kerja yang berkepanjangan berkaitan dengan meningkatnya risiko serangan jantung.
Selain memengaruhi kesehatan jantung secara langsung, kurang tidur juga berdampak terhadap metabolisme tubuh. Penelitian menunjukkan bahwa durasi tidur yang terlalu singkat dapat menurunkan sensitivitas insulin dan meningkatkan resistensi insulin sehingga mengganggu pengaturan kadar gula darah.
Sejumlah studi bahkan menemukan bahwa orang yang tidur kurang dari lima hingga enam jam setiap malam memiliki risiko lebih tinggi mengalami diabetes melitus. Menariknya, durasi tidur yang terlalu lama, yakni lebih dari delapan jam per malam, juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit tersebut. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan berbentuk huruf U (U-shaped), di mana durasi tidur yang terlalu pendek maupun terlalu panjang sama-sama berisiko terhadap kesehatan.
Baca juga: Kurang tidur dapat ganggu metabolisme dan picu kenaikan berat badan
Kurang tidur juga memengaruhi keseimbangan hormon dalam tubuh. Aktivitas sistem saraf simpatis menjadi lebih tinggi sehingga kadar hormon stres seperti kortisol meningkat. Di sisi lain, produksi hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang, yaitu leptin dan grelin, ikut berubah sehingga seseorang cenderung lebih mudah lapar dan mengonsumsi makanan dalam jumlah berlebihan.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan berat badan, memicu obesitas, dan pada akhirnya memperbesar risiko diabetes maupun penyakit jantung.
Penelitian yang dilakukan Wehrens dan tim juga menemukan bahwa kurang tidur dapat menyebabkan gangguan fungsi endotel, yaitu lapisan tipis yang melapisi bagian dalam pembuluh darah. Gangguan fungsi endotel merupakan salah satu tanda awal kerusakan pembuluh darah yang dapat berkembang menjadi penyakit jantung.
Dalam penelitian tersebut, pekerja dengan sistem kerja bergilir (shift) diketahui memiliki fungsi endotel yang lebih buruk dibandingkan pekerja dengan jam kerja normal. Mereka juga memiliki variabilitas detak jantung yang lebih rendah, kondisi yang menunjukkan tingginya aktivitas saraf simpatis dan meningkatnya risiko gangguan kardiovaskular.
Melihat berbagai dampak tersebut, menjaga kualitas tidur menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah penyakit jantung. Para ahli menganjurkan orang dewasa untuk tidur selama tujuh hingga delapan jam setiap malam agar fungsi jantung dan organ tubuh lainnya tetap optimal.
Selain memenuhi kebutuhan tidur, menjaga pola hidup sehat juga berperan penting dalam menurunkan risiko penyakit jantung. Kebiasaan menghindari begadang, menerapkan jadwal tidur yang teratur, membatasi konsumsi kafein dan alkohol menjelang waktu tidur, serta mengelola stres dapat membantu meningkatkan kualitas tidur sekaligus menjaga kesehatan jantung dalam jangka panjang, demikian merangkum sumber dari Kemenkes dan lainnya.
Baca juga: Kurang tidur dan stres kronis dapat mengganggu hormon kortisol
Baca juga: Benarkah begadang bisa menyebabkan darah tinggi? Ini penjelasannya
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
