
Jakarta (ANTARA) – Pernah merasa tertarik kepada seseorang hanya karena aroma tubuhnya? Meski terdengar sederhana, aroma tubuh ternyata dapat memengaruhi cara manusia mengenali dan merespons orang lain, termasuk dalam hubungan romantis.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan feromon, yaitu senyawa kimia yang digunakan sejumlah makhluk hidup untuk mengirimkan sinyal kepada individu lain dari spesies yang sama. Pada hewan, feromon dapat berperan dalam menarik pasangan, menandai wilayah, hingga memengaruhi perilaku reproduksi.
Namun, bagaimana dengan manusia? Apakah feromon benar-benar berperan ketika seseorang jatuh cinta?
Baca juga: 10 cara mengatasi sedih setelah putus cinta, bantu move on lebih cepat
Baca juga: 10 Cara move on setelah putus cinta yang sehat dan efektif
Feromon merupakan senyawa kimia yang dilepaskan oleh suatu organisme dan dapat memicu respons tertentu pada organisme lain dari spesies yang sama.
Pada beberapa jenis hewan, feromon memiliki fungsi penting dalam komunikasi dan reproduksi. Misalnya, serangga menggunakan feromon untuk menarik pasangan atau memberikan sinyal kepada kelompoknya.
Pada manusia, keberadaan dan fungsi feromon masih menjadi bahan penelitian. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa aroma tubuh dapat membawa informasi tertentu dan memengaruhi respons emosional maupun sosial seseorang.
Meski demikian, hingga kini belum ada satu senyawa yang terbukti secara meyakinkan sebagai feromon manusia yang secara langsung memicu ketertarikan romantis atau seksual.
Bagaimana feromon dikaitkan dengan perasaan jatuh cinta?
Ketika seseorang tertarik kepada orang lain, aroma tubuh bisa menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketertarikan tersebut.
Penelitian mengenai hubungan antara aroma tubuh dan hubungan romantis yang diterbitkan dalam jurnal Physiology & Behavior pada 2019 menjelaskan bahwa indra penciuman dapat berperan dalam beberapa tahap hubungan, mulai dari mengenali calon pasangan, mempertahankan kedekatan, hingga perubahan ketertarikan.
Aroma tubuh pasangan juga dapat memberikan rasa nyaman karena sudah familiar. Hal ini menjelaskan mengapa seseorang terkadang merasa tenang ketika mencium aroma pakaian atau tubuh orang yang disayanginya.
Namun, efek tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa feromon menjadi penyebab seseorang jatuh cinta. Pengalaman bersama, kedekatan emosional, kepribadian, dan faktor psikologis lainnya juga berperan dalam membentuk ketertarikan.
Baca juga: Tanda-tanda Anda belum benar-benar move on dari mantan
Apakah manusia benar-benar menghasilkan feromon?
Pertanyaan ini masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.
Dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the Royal Society B pada 2015, ahli zoologi Tristram Wyatt menjelaskan bahwa belum terdapat bukti ilmiah kuat yang memastikan beberapa senyawa yang sering disebut sebagai feromon manusia, seperti androstenone, androstenol, androstadienone, dan estratetraenol, benar-benar memiliki fungsi tersebut.
Penelitian mengenai komunikasi kimia pada manusia memang terus berkembang. Namun, untuk menyebut suatu senyawa sebagai feromon, para ilmuwan perlu membuktikan bahwa senyawa tersebut menghasilkan respons biologis atau perilaku yang konsisten.
Artinya, aroma tubuh manusia memang dapat memengaruhi interaksi sosial, tetapi belum tentu melalui mekanisme feromon seperti yang ditemukan pada hewan.
Apa saja faktor yang membuat aroma tubuh seseorang menarik?
Selain kemungkinan pengaruh sinyal kimia, ada beberapa faktor yang membuat aroma tubuh seseorang terasa menyenangkan bagi orang lain.
Pertama, faktor biologis. Setiap orang memiliki karakteristik aroma tubuh yang berbeda, dipengaruhi oleh genetika, hormon, metabolisme, serta mikroorganisme pada kulit.
Kedua, faktor psikologis. Aroma tertentu dapat mengingatkan seseorang pada pengalaman menyenangkan atau sosok yang memiliki kedekatan emosional dengannya.
Ketiga, faktor kebiasaan dan lingkungan. Penggunaan parfum, sabun, sampo, hingga pola makan dapat memengaruhi aroma alami tubuh seseorang.
Pada akhirnya, feromon memang menjadi topik menarik dalam penelitian mengenai ketertarikan manusia. Namun, anggapan bahwa seseorang bisa membuat orang lain jatuh cinta hanya dengan mengandalkan feromon belum memiliki dukungan ilmiah yang kuat.
Ketertarikan romantis merupakan proses kompleks yang melibatkan berbagai faktor biologis, psikologis, dan sosial, bukan sekadar persoalan aroma tubuh.
Baca juga: Benarkah cemburu berarti sayang? Ini batas yang perlu dipahami
Baca juga: Begini cara menyikapi rasa cemburu yang sehat menurut psikolog
Baca juga: Bukan cuma cinta, ini yang perlu disiapkan sebelum menikah
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
