
Jakarta (ANTARA) – Bermain game sering dianggap sebagai kegiatan yang hanya membuang-buang waktu. Tidak sedikit pula orang tua yang khawatir kebiasaan bermain game dapat mengganggu konsentrasi dan menurunkan kemampuan belajar anak. Namun, sejumlah penelitian justru menemukan bahwa bermain video game memiliki potensi untuk meningkatkan beberapa kemampuan kognitif manusia.
Lantas, benarkah bermain game bisa membuat seseorang lebih pintar dan memiliki kemampuan berpikir yang lebih baik?
Penelitian menunjukkan adanya manfaat kognitif
Kemampuan kognitif merupakan kemampuan otak dalam menerima, mengolah, menyimpan, dan menggunakan informasi. Kemampuan ini mencakup berbagai aspek, seperti daya ingat, perhatian, pemecahan masalah, hingga pengambilan keputusan.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Acta Psychologica pada Juli 2026 menganalisis 133 penelitian dengan melibatkan 14.245 partisipan. Hasilnya menunjukkan bahwa aktivitas bermain video game memiliki hubungan positif, meskipun dalam skala kecil, dengan sejumlah kemampuan kognitif.
Kemampuan yang berkaitan dengan aktivitas bermain game tersebut meliputi daya ingat, kemampuan spasial atau memahami ruang, perhatian visual, kontrol kognitif, dan kecerdasan.
Temuan ini memperlihatkan bahwa bermain game tidak selalu memberikan dampak negatif terhadap kemampuan otak. Dalam kondisi tertentu, aktivitas tersebut justru berpotensi membantu melatih sejumlah keterampilan berpikir.
Baca juga: Industri gim Indonesia diproyeksikan sumbang Rp59 triliun pada 2030
Jenis game memengaruhi kemampuan yang dilatih
Manfaat bermain game terhadap kemampuan berpikir juga tidak selalu sama. Setiap permainan memiliki mekanisme dan tantangan berbeda sehingga kemampuan yang dilatih pun bisa bervariasi.
Misalnya, game strategi seperti catur digital atau permainan simulasi mengharuskan pemain menyusun rencana, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, dan menentukan langkah berikutnya.
Sementara itu, game puzzle atau teka-teki dapat membantu melatih kemampuan mengenali pola, mengingat informasi, serta mencari solusi dari suatu permasalahan.
Game bergenre action juga memiliki potensi melatih perhatian visual dan kemampuan merespons perubahan situasi dengan cepat. Pemain dituntut memperhatikan berbagai objek sekaligus mengambil keputusan dalam waktu singkat.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE pada 2023 turut memperkuat temuan tersebut. Meta-analisis terhadap 63 penelitian dengan total 2.079 partisipan menemukan adanya peningkatan kemampuan kognitif setelah mengikuti intervensi berbasis video game.
Namun, peneliti juga menekankan bahwa manfaat tersebut lebih berkaitan dengan fitur dan mekanisme permainan dibandingkan sekadar kategori genre game.
Apakah bermain game otomatis membuat seseorang lebih pintar?
Meskipun memiliki sejumlah manfaat, bukan berarti semakin lama seseorang bermain game, semakin tinggi pula kecerdasannya.
Penelitian mengenai hubungan video game dan kemampuan kognitif masih memiliki sejumlah keterbatasan. Salah satunya adalah perbedaan antara peningkatan keterampilan saat bermain game dan kemampuan menerapkan keterampilan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Seseorang mungkin menjadi lebih cepat dalam mengambil keputusan ketika bermain game strategi. Namun, kemampuan tersebut belum tentu secara otomatis membuatnya lebih unggul dalam menyelesaikan persoalan akademis atau pekerjaan.
Dengan kata lain, peningkatan kemampuan tertentu tidak selalu berarti peningkatan kecerdasan secara keseluruhan.
Baca juga: Main game sebelum tidur bisa ganggu kualitas tidur, mitos atau fakta?
Tetap perlu membatasi waktu bermain
Di balik manfaatnya, bermain game secara berlebihan tetap dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk waktu tidur, belajar, bekerja, dan interaksi sosial.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah memasukkan gaming disorder atau gangguan bermain game ke dalam klasifikasi penyakit internasional ICD-11.
Kondisi tersebut ditandai dengan kesulitan mengendalikan kebiasaan bermain, menjadikan game sebagai prioritas dibandingkan aktivitas lainnya, serta tetap bermain meskipun sudah menimbulkan dampak negatif.
Karena itu, penting untuk mengatur waktu bermain dan tidak menjadikan game sebagai pengganti aktivitas fisik, istirahat, maupun kegiatan produktif lainnya.
Jadi, bermain game bukan sekadar hiburan. Jika dilakukan secara terarah dan tidak berlebihan, aktivitas ini juga bisa menjadi salah satu cara untuk melatih kemampuan kognitif.
Baca juga: 7 Permainan yang baik untuk tumbuh kembang anak
Baca juga: Apa perbedaan FPS, RPG, MOBA, dan Battle Royale dalam dunia game?
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
