
Jakarta (ANTARA) – Bagi banyak orang Indonesia, perjalanan rasanya belum benar-benar selesai kalau belum mampir ke toko oleh-oleh. Entah itu liburan, perjalanan dinas, mudik, atau sekadar pergi ke luar kota, biasanya ada saja barang yang dibawa pulang untuk keluarga, teman, tetangga, atau rekan kerja.
Mulai dari makanan khas daerah, kerajinan tangan, pakaian, sampai suvenir kecil seperti gantungan kunci, semuanya bisa menjadi pilihan. Bahkan, kalimat “jangan lupa oleh-olehnya” sudah cukup akrab terdengar ketika seseorang hendak bepergian.
Namun, kebiasaan membeli oleh-oleh sebenarnya bukan cuma soal membawa pulang barang dari tempat yang dikunjungi. Ada makna sosial dan budaya yang ikut melekat di dalamnya.
Baca juga: Klepon hingga nasi tumpeng, ini kuliner khas di hari kemerdekaan RI
Baca juga: Sama-sama pakai sambal kacang, apa perbedaan karedok dan pecel?
Oleh-oleh sebagai tanda perhatian
Salah satu alasan orang membeli oleh-oleh adalah untuk menunjukkan bahwa mereka tetap mengingat orang lain selama bepergian.
Ketika seseorang membawakan makanan khas dari suatu daerah untuk keluarganya, misalnya, barang tersebut menjadi semacam simbol perhatian. Pesannya sederhana: meskipun sedang menikmati perjalanan di tempat lain, ada orang-orang di rumah yang tetap dipikirkan.
Penelitian mengenai makna pemberian oleh-oleh makanan kepada generasi Z di Yogyakarta menunjukkan bahwa budaya memberi tersebut masih dipertahankan. Para responden dalam penelitian itu masih melihat pemberian oleh-oleh kepada keluarga atau orang terdekat sebagai bagian dari nilai budaya dan kebaikan yang diajarkan dalam keluarga.
Karena itu, harga atau ukuran oleh-oleh sebenarnya bukan hal utama. Sebungkus makanan khas yang harganya relatif terjangkau tetap bisa memiliki arti ketika diberikan dengan niat berbagi.
Cara berbagi pengalaman perjalanan
Oleh-oleh juga bisa menjadi cara sederhana untuk membagikan pengalaman.
Ketika seseorang pulang membawa bakpia dari Yogyakarta, dodol dari Garut, atau makanan khas dari daerah lain, ia tidak hanya membawa makanan. Ada cerita mengenai tempat asal barang tersebut di baliknya.
Inilah yang membuat oleh-oleh berbeda dari barang belanjaan biasa. Benda tersebut dapat menjadi pengingat mengenai suatu perjalanan dan memperkenalkan sedikit identitas daerah kepada orang yang menerimanya.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga menyebut suvenir atau oleh-oleh sebagai salah satu bentuk cinderamata yang dibawa pulang setelah seseorang melakukan perjalanan ke tempat lain.
Jadi, ketika seseorang memberikan oleh-oleh, secara tidak langsung ia juga sedang berkata, “Ini yang aku temukan di tempat yang kemarin aku datangi.”
Baca juga: Oleh-oleh makanan khas dari berbagai kota di Indonesia
Menjaga hubungan tetap dekat
Memberikan sesuatu kepada orang lain juga dapat menjadi bagian dari cara menjaga hubungan sosial.
Tidak heran jika oleh-oleh sering diberikan kepada orang-orang yang memiliki hubungan dekat, seperti orang tua, saudara, pasangan, sahabat, hingga rekan kerja. Pemberian kecil tersebut bisa menjadi pembuka percakapan sekaligus cara untuk kembali terhubung setelah beberapa hari tidak bertemu.
Pengamat budaya dari Universitas Indonesia Prof. Dr. Agus Aris Munandar pernah menjelaskan kepada ANTARA bahwa tradisi memberi sesuatu dalam masyarakat Indonesia berkembang dengan berbagai fungsi sosial, termasuk menjadi bentuk oleh-oleh. Menurutnya, pemberian dapat berfungsi sebagai tanda keakraban dan mempererat tali silaturahmi.
Artinya, oleh-oleh tidak hanya berbicara mengenai barang, tetapi juga mengenai hubungan antara pemberi dan penerima.
Kenapa muncul kebiasaan “jangan lupa oleh-oleh”?
Menariknya, kebiasaan membeli oleh-oleh terkadang juga berubah menjadi semacam ekspektasi sosial.
Seseorang yang baru pulang dari luar kota mungkin langsung ditanya, “Mana oleh-olehnya?” Kalimat tersebut biasanya disampaikan sambil bercanda. Namun, karena dilakukan berulang kali, kebiasaan itu bisa membuat oleh-oleh terasa seperti sesuatu yang wajib dibawa.
Kajian mengenai kebiasaan meminta oleh-oleh di Indonesia menyebut praktik tersebut berkembang menjadi semacam ritual sosial karena dilakukan secara terus-menerus. Dalam kondisi tertentu, tidak membawa oleh-oleh bahkan dapat menimbulkan rasa sungkan atau komentar dari lingkungan sekitar.
Di sinilah tradisi oleh-oleh memiliki dua sisi. Di satu sisi, ia menjadi bentuk perhatian dan berbagi kebahagiaan. Di sisi lain, ekspektasi yang terlalu besar bisa membuat seseorang merasa terbebani.
Baca juga: Kuliner khas Indonesia dijadikan inspirasi koleksi pada pin sandal
Ikut menggerakkan ekonomi daerah
Ada pula manfaat lain yang tidak kalah penting, yaitu dari sisi ekonomi.
Banyak daerah wisata memiliki produk khas yang sengaja dikembangkan sebagai oleh-oleh. Ketika wisatawan membeli makanan atau kerajinan lokal untuk dibawa pulang, uang tersebut ikut mengalir kepada pelaku usaha, perajin, pedagang, hingga pekerja yang terlibat dalam proses produksinya.
Penelitian mengenai pembelian ulang bakpia oleh wisatawan domestik di Yogyakarta menunjukkan bahwa atribut produk, simbol, dan kepraktisan dapat memengaruhi persepsi seseorang terhadap nilai sebuah makanan sebagai oleh-oleh.
Dengan begitu, tradisi membeli oleh-oleh juga ikut membantu produk lokal tetap dikenal. Makanan atau kerajinan yang awalnya hanya populer di daerah asalnya bisa semakin dikenal ketika dibawa wisatawan ke kota lain.
Pada akhirnya, tradisi membeli oleh-oleh bukan tentang seberapa mahal barang yang dibawa pulang.
Yang membuatnya bermakna justru adalah cerita dan perhatian di balik pemberian tersebut. Sebuah camilan sederhana bisa terasa lebih spesial jika diberikan kepada orang yang memang diingat selama perjalanan.
Jadi, kalau suatu saat kamu bepergian dan ada teman yang berkata, “Jangan lupa oleh-oleh,” tidak perlu langsung menganggapnya sebagai kewajiban. Membawa buah tangan memang bisa menjadi cara menyenangkan untuk berbagi pengalaman, tetapi tidak seharusnya menjadi beban.
Sebab, inti dari oleh-oleh bukan sekadar apa yang ada di dalam bungkusnya. Ada pesan sederhana di baliknya: “Aku pergi, melihat banyak hal, dan selama perjalanan itu aku tetap ingat kamu.”
Baca juga: Menteri Kebudayaan menyebut tempe sebagai bagian dari tradisi
Baca juga: Pempek vs Tekwan: Apa saja perbedaan dua kuliner khas Palembang ini?
Baca juga: 10 makanan khas Jawa yang legendaris, ada Gudeg dan Rawon
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
