Emas vs tabungan bank: Mana yang lebih menguntungkan? Ini faktanya

Jakarta (ANTARA) – Menyimpan uang tidak hanya soal tempat yang aman, tetapi juga bagaimana menjaga nilainya dalam jangka panjang. Emas dan tabungan bank memiliki karakteristik berbeda sehingga pilihan terbaik bergantung pada tujuan dan kebutuhan keuangan masing-masing.

Bagi masyarakat yang membutuhkan dana mudah dicairkan, tabungan bank masih menjadi pilihan praktis. Sementara itu, emas lebih banyak dipilih untuk menyimpan nilai dalam jangka panjang karena harganya dapat meningkat, meski tetap memiliki risiko penurunan harga.

Sebagai gambaran, harga emas batangan Antam pada 14 Agustus 2026 tercatat Rp2.664.000 per gram sebelum pajak. Harga tersebut menunjukkan tingginya nilai emas saat ini, tetapi harga emas tetap dapat berubah mengikuti kondisi pasar.

Di sisi lain, tingkat suku bunga juga memengaruhi keuntungan dari menyimpan uang di bank. Bank Indonesia pada Mei 2026 menaikkan BI-Rate menjadi 5,25 persen, yang kemudian menjadi salah satu acuan kondisi suku bunga di pasar keuangan.

Baca juga: Tujuh Aplikasi Jual Beli Emas Terbaik 2026

Kelebihan menabung di bank

Menabung di bank memiliki sejumlah kelebihan, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan akses cepat terhadap uang.

1. Mudah dicairkan

Dana dalam rekening tabungan dapat digunakan kapan saja sesuai ketentuan bank. Hal ini membuat tabungan cocok untuk kebutuhan sehari-hari dan dana darurat.

2. Lebih praktis untuk transaksi

Rekening bank dapat digunakan untuk transfer, pembayaran tagihan, pembelian, hingga transaksi melalui kartu debit atau layanan perbankan digital.

3. Risiko harga relatif rendah

Berbeda dengan emas yang harganya dapat naik turun, jumlah uang dalam rekening tidak berubah karena fluktuasi harga pasar. Namun, nilai riil uang tetap dapat tergerus inflasi.

BPS mencatat inflasi Indonesia pada Juli 2026 sebesar 2,88 persen secara tahunan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa daya beli uang dapat berubah seiring kenaikan harga barang dan jasa.

4. Cocok untuk kebutuhan jangka pendek

Tabungan bank lebih sesuai untuk kebutuhan yang membutuhkan dana dalam waktu dekat, seperti biaya hidup, pendidikan, atau dana darurat.

Baca juga: Pegadaian dan OJK ajak generasi muda mandiri finansial secara aman

Kekurangan menabung di bank

Meski praktis, menyimpan seluruh uang hanya dalam tabungan juga memiliki sejumlah kekurangan.

1. Bunga tabungan relatif kecil

Bunga yang diperoleh dari tabungan umumnya tidak sebesar potensi kenaikan nilai sejumlah aset investasi. Besarnya bunga juga berbeda-beda antarbank dan jenis produk.

2. Tergerus inflasi

Jika pertumbuhan saldo tidak mampu mengimbangi kenaikan harga barang dan jasa, daya beli uang dapat menurun dalam jangka panjang.

3. Ada biaya tertentu

Beberapa produk tabungan mengenakan biaya administrasi, biaya kartu, atau biaya transaksi. Besarnya tergantung kebijakan masing-masing bank.

Kelebihan membeli emas

Emas memiliki karakteristik berbeda dengan tabungan dan lebih sering digunakan sebagai aset penyimpan nilai.

1. Berpotensi menjaga nilai dalam jangka panjang

Emas sering digunakan sebagai salah satu instrumen untuk mempertahankan nilai kekayaan dalam jangka panjang. Namun, hal ini bukan berarti harga emas selalu naik.

2. Bisa menjadi diversifikasi aset

Masyarakat dapat menggunakan emas sebagai salah satu bagian dari portofolio sehingga tidak seluruh kekayaan ditempatkan dalam bentuk uang tunai.

3. Tidak bergantung pada bunga

Keuntungan emas berasal dari perubahan harga ketika dijual, bukan dari bunga seperti produk simpanan tertentu.

4. Bisa dimulai dalam jumlah relatif kecil

Emas batangan tersedia dalam berbagai ukuran. Pada 14 Agustus 2026, misalnya, harga dasar emas Antam ukuran 0,5 gram tercatat Rp1.382.000, sedangkan ukuran 1 gram Rp2.664.000.

Baca juga: OJK bagikan tips kelola uang untuk milenial hadapi pandemi

Kekurangan membeli emas

Di balik potensi keuntungan tersebut, emas juga memiliki sejumlah risiko.

1. Harga dapat berfluktuasi

Harga emas tidak selalu naik. Investor tetap berpotensi mengalami kerugian apabila menjual ketika harga sedang lebih rendah dibandingkan harga pembelian.

2. Ada selisih harga beli dan jual

Harga ketika membeli emas berbeda dengan harga ketika menjual kembali. Selisih tersebut perlu diperhitungkan agar tidak keliru menganggap kenaikan harga emas sebagai keuntungan bersih.

3. Tidak menghasilkan pendapatan rutin

Emas tidak memberikan bunga atau pembayaran rutin. Keuntungan baru terealisasi ketika emas dijual dengan harga yang lebih tinggi setelah memperhitungkan biaya dan selisih harga.

4. Perlu memperhatikan penyimpanan

Untuk emas fisik, pemilik harus memastikan tempat penyimpanannya aman. Risiko kehilangan atau kerusakan perlu dipertimbangkan.

Jadi, mana yang lebih untung?

Tidak ada jawaban tunggal bahwa emas selalu lebih menguntungkan daripada menabung di bank, begitu pula sebaliknya.

Tabungan bank lebih cocok untuk dana yang dibutuhkan dalam jangka pendek, terutama dana darurat dan kebutuhan sehari-hari. Sementara emas lebih cocok dipertimbangkan untuk tujuan penyimpanan nilai dan investasi jangka panjang, dengan catatan pemilik siap menghadapi perubahan harga.

Strategi yang dapat dipertimbangkan adalah tidak menempatkan seluruh uang pada satu instrumen. Dana untuk kebutuhan sehari-hari dan keadaan darurat dapat disimpan di bank, sementara sebagian dana yang memang dialokasikan untuk jangka panjang dapat ditempatkan pada aset seperti emas sesuai profil risiko masing-masing.

Dengan demikian, keputusan membeli emas atau menabung di bank sebaiknya disesuaikan dengan tujuan keuangan, jangka waktu, kebutuhan likuiditas, dan kemampuan menghadapi risiko, demikian mengutip data BPS, BI, dan Pegadaian.

Baca juga: OJK: Peningkatan literasi keuangan di Bali dorong kesejahteraan

Baca juga: Cara “simpan” uang dan investasi selain menabung di bank

Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.